Senin, 12 Maret 2012

Fanatisme Berujung Maut

bonek
Kembali, awan gelap menggelayuti dunia sepakbola Indonesia. Konflik para pengurus PSSI yang tak berujung, Timnas dilucuti Bahrain 10-0, timnas U-21 menambah panjang puasa gelar di HBT, Kemaren (10/3/2012) empat nyawa suporter Persebaya Surabaya juga melayang. Mereka meninggal dalam perjalanan ke Bojonegoro untuk mendukung tim kesayangan dalam lanjutan Indonesia Premier League, Persibo Bojonegoro VS Persebaya Surabaya.
Tiga korban meninggal di Lamongan, sedangkan seorang lagi di Rumah Sakit Bojonegoro. Menurut kesaksian salah seorang teman korban yang selamat, mereka berangkat ke bojonegoro naik kereta barang dari Surabaya dengan menaiki atap kereta. Saat kereta melintas di wilayah Babat, Lamongan, tiba-tiba ratusan batu mulai mengarah ke kereta. Batu itu dilempar dari kanan kiri kereta.
Saat dilempari, para suporter mengaku menelungkupkan badannya. Ternyata, selain batu, ada juga mercon, kembang dan diduga bom molotov ikut dilempar. Akibat dari pelemparan itu, seorang suporter tewas terkena lemparan batu, sedangkan tiga lainnya ditemukan jatuh di stasiun babat.
Peristiwa ini seolah jauh dari kata perdamaian yang beberapa hari sebelumnya dicetuskan oleh LA-mania (pendukung Persela) dan Bonek (pendukung Persebaya). Dengan adanya peristiwa ini, akan semakin menambah daftar dendam antara kedua kelompok suporter. Entah siapa yang memulai, pertikaian akan selalu berujung duka, bukan cuma antara LA-mania vs Bonek, tapi juga antar suporter lain.
Fanatisme yang berujung pada maut seperti ini sudah acapkali terjadi dan terus saja berulang. Seakan tak ada solusi dan tak mungkin ada solusi. Harusnya masalah seperti ini adalah tanggung jawab otoritas bola Indonesia, dalam hal ini PSSI. Tapi, selama ini tak ada usaha untuk mendamaikan para suporter yang bertikai.
Dengan adanya peristiwa seperti ini pun, saya yakin para pengurus PSSI cuma akan diam, tak akan ada respons sama sekali, tidak ada respect, sebagaimana permainan sepakbola itu sendiri. Harus menunggu peristiwa duka macam apalagi coba supaya para pengurus PSSI mengambil tindakan. Lain halnya kalau jabatan mereka yang diusik, pasti akan segera merespon.
Suporter adalah bagian yang tak terpisahkan dalam sepakbola. Tanpa suporter, sepakbola akan mati suri. Tapi kala tak ada perhatian untuk para suporter, apakah masih pantas, fanatisme ini kita jaga? Bukan tidak mungkin peristiwa seperti ini akan menimpah kita, saudara kita.
Kita boleh mati, dan pasti akan mati tapi tidak karena kesombongan, keangkuhan diri sendiri.
Salam damai untuk para suporter seluruh indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar