Assalamu alaikum wr. wb
Sekedar Sharing artikel yang bagus menurut saya, tentang solat yagng
diterima Allah SWT. mudah2an bermanfa’at… dan mudah2an sholat kita
smua diterima Allah SWT. Amin
Artikel ini saya dapatkan dari salah satu kiriman email
Saya akan memulai pembahasan ini dengan hadis-hadis Rasulullah saw. yang ada hubungannya dengan
kemasyarakatan.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Akan datang suatau zaman di mana orang-orang berkumpul di masjid untuk
shalat berjamaah tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang mukmin”
Rasulullah saw juga bersabda, “Nanti akan datang suatu zaman di mana
seorang muazin melantunkan azan, kemudian orang-orang menegakkan shalat,
tetapi di antara mereka tidak ada yang mukmin” (Kanzul ‘Ummal, hadis
ke-3110)
Sabda-sabda Rasulullah saw yang mulia di atas jelas menarik bagi
kita. Akan muncul pertanyaan di benak kita, “Mengapa shalat yang mereka
lakukan tidak dianggap sebagai tanda seorang mukmin?” Dan mengapa orang
yang melakukan shalat di masjid itu tidak dihitung sebagai mukmin?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan menunjukkan
tanda-tanda seorang mukmin. Shalat bukanlah tanda bahwa seseorang yang
melakukannya dapat disebut sebagai mukmin. Tetapi ia merupakan tanda
bahwa yang melakukannya adalah seorang Muslim. Oleh karena itu, tanda
seorang mukmin ialah shalat ditambah dengan syarat yang lainnya.
Saya ingin menyebutkan karakteristik seorang mukmin yang di muat dalam Shahih Bukhari. Rasulullha saw yang mulia bersabda:
Pertama, barangsiapa yang beriman (mukmin) kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia menghormati tetangganya.
Kedua, barangsiapa yang beriman (mukmin) kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia senang menyambungkan tali persaudaraan.
Ketiga, barangsiapa yang beriman (mukmin) kepada Allah dan Hari
Akhir, hendaknya dia berbicara yang benar, dan kalu tidak mampu
berbicara dengan benar, maka lebih baik dia berdiam diri.
Keempat, Tidak dianggap sebagai orang berimana apabila seseorang
tidur dalam keaadaan kenyang, sementara para tetangganya kelaparan
disampingnya.
Dengan hanya mengambil empat macam hadis diatas, ada melihat bahwa
tanda seorang mukmin itu terlihat dari taggung jawabnya di
tengah-tengah masyarakatnya. Kalau dia menghormati tetangganya,
menyambung tali persaudaraan, dan berbicara dengan benar, atau
memiliki keprihatinan di antara penderitan yang dirasakan oleh
saudaranya di sekitarnya, maka barulah dia boleh dikatakan sebagai
seorang mukmin.
Jadi, dengan kata lain, Rasulullah saw menyebutkan bahwa nanti akan
datang suatu zaman, orang-orang berkumpul di masjid untuk mendirikan
shalat tetapi tidak akur dengan tetangganya, yaitu tidak menyambungkan
tali persaudaraan diantara kaum muslim. Mereka menyebarkan fitnah dan
tuduhan yang tidak layak terhadap kaum muslim, mereka melaksanakan
shalat tetapi tetapi tidak sanggup mengatakan kalimat yang benar,
mereka melaksanakan shalat tetapi acuh tak acuh dengan penderitaan yang
dirasakan oleh sesamanya. Kata Rasulullah saw, mereka adalah
orang-orang yang melaksanakan shalat, tetapi sebetulnya tidak dihitung
sebagai orang yang melakukan shalat.
Rasulullah saw, juga pernah bersabda, “Ada dua orang umatku yang
melakukan shalat, yang rukuk dan sujudnya sama akan tetapi nilai shalat
kedua orang itu jauhnya antara langit dan bumi.”
Dalam hadis Qudsi, juga disebutkan mengenai orang-orang yang diterima
shalatnya oleh Allah Swt. “Sesunggunya Aku (Allah Swt.) hanya akan
menerima shalat dari orang yang dengan shalatnya itu dia merendahkan
diri di hadapan-Ku. Dia tidak sombong dengan mahkluk-Ku yang lain. Dia
tidak mengulagi maksiat kepada-Ku. Dia menyayangi orang-orang miskin
dan orang-orang yang menderita. Aku akan tutup shalat orang itu dengan
kebesaran-Ku. Aku akan menyuruh malaikat untuk menjaganya. Dan kalau
dia berdoa kepada-Ku, Aku akan memperkenankannya. Perumpamaan dia
dengan mahkluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan firdaus di
surga.”
Dalam hadis qudsi tersebut disebutkan bahwa tanda-tanda orang yang diterima shalatnya oleh Allah Swt. Adalah:
Pertama, dia datang untuk melaksanakan shalat dengan merendahkan diri
kepada-Nya. Dalam Al-Qur’an, keadaan seperti itu disebut khusyu’. dan
shalat yang khusyu’ adalah salah satu tanda orang yang mukmin. Yang
disebut dengan shalat yang khusyu’ itu bukan shalat yang tidak ingat
apa pun. Karena orang yang tidak ingat apa pun itu disebut pingsan.
Diriwiyatkan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah,
apabila hendak melakukan shalat, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat
pasi. Sehingga ketika ada orang yang bertanya kepadanya, “Mengapa anda
ya Amirul Mukminin?” Sayyidina Ali menjawab, “Engkau tidak tahu bahwa
sebentar lagi aku kan menghadapi waktu amanah.” kemudian Sayyidina Ali
membacakan ayat Al-Qur’an,
“Sesungguhnya kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan
gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir akan menghianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS 33 : 72).
Kemudian Sayyidina Ali melanjutkan ucapannya, “shalat adalah suatau
amanat Allah yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan bukit
untuk memikulnya. Tetapi mereka menolaknya dan hanya manusia yang
sanggup memikulnya. Memikul amanat berarti mengabdi kepada-Nya.”
Kedua, Dia tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. Jadi, tanda
orang yang diterima shalatnya ialah tidak takabur (sombong). Takabur,
menurut Imam Ghazali, ialah sifat orang yang merasa dirinya lebih
besar daripada orang lain. Kemudian ia memandang enteng orang lain itu.
Boleh jadi ia bersikap demikian dikarenakan ilmu, amal, keturunan,
kekayaan, anak buah, atau kecantikannya.
Kalau anda merasa besar karena memiliki hal-hal itu dan memandang
enteng orang lain, maka anda sudah takabur. Dan shalat anda tidak
diterima. Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw
bersabda, “Takkan masuk surga seseorang yang didalam hatinya ada rasa
takabur walaupun sebesar debu saja.”
Biasanya masyarakat akan menjadi rusak kalau di tengah-tengah
masyarakat itu ada orang yang takabur. Kemudian takabur itu ditampakkan
untuk memperoleh perlakuan yang istimewa. Dan anehnya, seringkali
sifat takabur ini menghinggapi para aktivis masjid atau aktivis
kegiatan keagamaan. Mereka biasanya takabur dengan ilmunya dan
menganggap dirinya paling benar.
Ketiga, tanda orang yang diterima shalatnya ialah orang yag tidak
mengulangi maksiatnya kepda Allah Swt. Nabi yang mulia bersabda:
“Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari kejelekan dan
kemungkaran, maka shalatnya hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah
Swt” dalam hadis yang lain, Rasulullah saw bersabda: “Nanti, pada hari
kiamat, ada orang yang membawa shalatnya di hadapan Allah Swt. Kemudian
shalatnya diterima dan dilipat-lipat seperti dilipat-lipatnya pakaian
pakaina yang kotor dan usang. Lalu shalat itu dibantingkan
kewajahnya.”
Allah tidak menerima shalat itu karena shalatnya tidak dapat
mencegah perbuatan maksiatnya setelah ia melakukan maksiat tersebut.
Bukankah Al-Qur’an telah mengatakan: “………Sesungguhnya shalat mencegah
dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar….” (QS 29: 45)
Keempat, orang yang diterima shalatnya ialah orang yang menyayangi
orang-orang miskin. Kalau di terjemahkan dengan kalimat modern, hal ini
berarti orang yang mempunyai solidaritas sosial. Dia bukan hanya
melakukan rukuk dan sujud saja, tetapi dia juga memikirkan penderitaan
sesamanya. Dia menyisihkan sebagian waktu dan rezekinya untuk
membahagiakan orang lain.
Kalau dalam shalat anda, anda sudah merasakan kebesaraan Allah dan
tidak takabur, dan kalau anda sudah tidak mengulangi perbuatan maksiat
sesudah shalat, dan kalau anda sudah mempunyai perhatian yang besar
terhadap kesejahteraan orang lain, maka Allah akan melindungi anda
dengan jubah kebesaran-Nya. Allah akan memberikan kepada anda
kemuliaaan dengan kemuliaan-Nya, dan akan membungkus anda dengan busana
kebesaran-Nya. Di samping itu, Allah akan menyuruh para malaikat untuk
menjaga anda, dan para malaikat itu akan berkata sebagaimana yang
disebutkan dalam Al-Qur’an:
“kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan di dunia dan akhirat.
Di dalamnya kamu akan memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh
(pula) di dalamnya apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.” (QS
41 : 31)
sumber:majelisvirtual.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar